Selasa, 28 Mei 2013

Jalan

Sepatah kata yang merupakan misteri bagi semua manusia:
NASIB

Seorang yang berhasil pernah mengatakan bahwa segala sesuatu merupakan pilihan.
Seorang pemuka agama mengatakan bahwa hidup merupakan takdir yang telah ditetapkan (predestined), namun kita diijinkan untuk mengubah nasib kita.
Seorang motivator meyakinkan bahwa kitalah perancang dari jalan hidup kita.
Pepatah mengatakan: Tuhan tidak bermain dadu...

Saya sangat menyukai fotografi, bagi saya sebuah karya fotografi berbicara dengan banyak makna. Sebuah gambar bisa berbicara mengenai kesedihan, kebahagiaan, ketakutan, tekad, kekalahan, kemenangan, kesendirian, penolakan, penerimaan, seluruh emosi yang bisa dirasakan manusia.
Proses menciptakan sebuah gambar pun merupakan seni. Obyek yang sama di mata fotografer yang ahli bisa menjadi lukisan yang sangat indah. Saya masih murid baru yang belajar melukis dengan cahaya.

Kita semua seperti seorang fotografer dalam kehidupan ini. Kita memiliki kisah kehidupan yang berbeda-beda. Dibesarkan dalam lingkungan pendidikan yang berbeda. Memiliki standar keinginan yang berbeda satu dengan lainnya. Dan setiap orang memandang dengan cara berbeda...

Kita merasa mengenal kehidupan kita, namun kita tak juga mengetahui, ke mana jalan hidup kita membawa... Masa depan adalah seperti langit senja yang menampilkan berjuta warna menyala, nyata dan tak nyata... Karena warna adalah panjang gelombang dan intensitas cahaya...

Usiaku waktu itu 14 tahun ketika aku merasakan sakit dan kesedihan itu, karena aku melihat dengan cara yang berbeda dengan banyak orang... Aku memandang sosok lelaki sebagai makhluk yang kuinginkan untuk berbagi kehidupan bersama, sementara lingkunganku memandang sebaiknya aku berbagi kehidupan dengan sosok wanita... Tidak ada yang salah dengan wanita, hanya aku menyukai sosok pria. Dan dunia menghakimiku.

Dunia ini beragam, tapi manusia menghendaki seragam. Jejak karyaNya menunjukkan varian bahkan pada warna kulit, bentuk rangka dan karakteristik lainnya pada tubuh seorang manusia, namun manusia memaksakan 2 warna dominan. Mataku adalah mata pelangi, tapi aku dipaksa memandang hanya warna hitam dan putih, seakan aku buta warna. Siapakah yang buta warna?


Senja itu, nun jauh di ujung benua Afrika, memandang 2 samudra yang menyatu, memandang cahaya dunia berangsur sembunyi garis cakrawala, aku memohon pada zat yang mencipta kala dan masa, agar menuntunku di masa depan seindah senja itu...

Dan 3 tahun kemudian, kehidupan mempertemukanku dengannya.
Saat ini aku masih menuntut SabdaNya sendiri, "Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."



Tidak ada komentar:

Posting Komentar